Oleh :
Uib Sholahuddin Al Ayubi, MA
Berbicara tentang kematian bukanlah suatu hal yang sepele, karena manusia untuk memahami kematiannya sangat terbatas, dan juga karena terus dirundung kesedihan dan ketakutan yang mendalam yang selalu menghinggapi dalam benak dan pikiran kita bagaiama terjadi kematian?. Manusia sedih menghadapi kematian karena ia akan meninggalkan sesuatu yang dicintai dan sedih karena belum siap untuk mati karena masih menikmati hidup ini. Sehingga muncul pepatah Khairil Anwar "Aku ingin hidup seribu Tahun lagi". Kahiril pun sebenarnya terinspirasi dari alquran "Salah seorang di antara mereka berkeinginan untuk dihidupkan seribu tahun" (QS. 2:96)
Dalam ayat-ayat alquran dan hadits Nabi Muhammad Saw., banyak menerangkan tentang ketakwaan, dan juga banyak menerangkan tentang sifat-sifat utama orang yang bertakwa, seperti : beriman kepada yang gaib, menegakan sholat, mendermakan sebagian dari harta yang diakruniakan Tuhan kepada mereka, beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., beriman kepada kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad Saw., yakin akan hari kemudian (akhirat).
Dari beberapa sifat orang bertakwa, terutama yang terakhir yaitu beriman kepada hari akhir, hal ini berkenaan juga dengan kematian sesorang, namun pula kematian merupakan bukan akhir dari segala pengalaman eksistensial manusia, melainkan permulaan dari jenis pengalaman baru yang justru lebih hakiki dan lebih abadi.[1] Kematian manusia merupakan kelanjutan sebuah kehidupan (kontinuum), kematian hanya sebuah titik pemberhentian dan kemudian melanjutkan kehidupan pada fase berikutnya. Namun pula kematian bukanlah sebuah masalah yang empiris, tidak bisa dibuktikan melalui pengalaman atau sebuah penelitian bagi manusia yang masih hidup. Kematian dalam alquran dan hadits ditekankan kepada kata "iman" (percaya dan yakin), percaya kepada pembawa beirita (naba) dari Tuhan sebagaiman dibwa oleh para pembawa berita (naby), yaitu orang yang mendapat berita.
Berbeda dengan pemahaman aajaran Hindu, bahwa kematian bukan merupakan sebuah fase kelanjutan, melainkan sebuah tempat bagi konsep reinkarnasi. Reinkarnasi bagi ajaran Hindu merupakan manusia akan hidup kembali ke dunia ini, dengan bentuk yang serupa. Ajaran ini melakat bagi kaum Hindu karena percaya betul akan terjadi hidup dua kali di dunia. Pandangan dalam Islam mengindikasikan bahwa eksistensi dan pengalaman manusia memiliki "dua kematian" dan "dua kehiduapan" (QS. Al-Mu'min/40:11).
Dua kematian dan dua kehidupan, menurut para ahli tafsir nmenjelaskan, bahwa kematian pertama ialah fase eksistensi manusia masih berupa tanah atau sebelum dilahirkan di dunia, sedang kemaatian kedua ialah kematian fisik sebagai akhir hidup dunia untuk memasuki hidup ukhrowi. Dan kehidupan ukhrowi terjadi setelah kembangkitan kembali (qiyamat) adalah hidup yang kedua, sedang hidup yang pertama ialah yang sedang kita alami saat ini, yiatu kehidupan di dunia.[2]
Kematian adalah "pintu" untuk memasuki kehidupan manusia selanjutnya, suatu kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan saat ini dengan kehidupan di ukhrowi, jadi kematian adalah sebuah perpindahan (transitory). Setelah kematian, ada kehidupan, seperti yaum al-Ba'ats, (hari kebangkitan), hingga pada yaum al-qiyamah (hari kiamat). Hidup di akhirat dinamai dengan al-hayawan yang berarti hidup yang sempurna, dan kematian disebut dengan wafat yang arti harfiyahnya adalah, kesempurnaan.[3]
Sempurnanya menuntaskan kehidupan di dunia, dan akan menuju kehidupan yang benar-benar sempurna, nemun demikian, bahwa kehidupan sesudah mati, sebelum seseorang dibangkitkan untuk masuk surga atau terjerumus ke neraka. Kehiduapan tersebut dinamakan kehidupan alam barzakh yang artinya pemisah.[4] Di alam barzakh ini sesorang dapat melihat ke depan dan melihat ke belakang. Penglihatan ke depan akan terlihat kehidupan akhirat (surga dan nerqaka), bila melihat ke belakang adalah dunia, dan akan terlihat keluarganya yang masih hidup dunia, ia berusaha ingin kembali, tatapi ada pemisah (barzakh).[5]
Alam barzakh bukan liang lahat tempat disemayamkan jasad, tatpi tempat menetapnya ruh-ruh manusia pasca kematian.[6] Alam barzakh lebih luas dan lebih besar dari bumi yang ditempati manusisa sebelumnya. Ruh-ruh manusia yang menatap di alam barzakh, tentu akan dapat balasan sesuai amalan di dunia. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi : "al-qabr raudah min riyad al-jannah au hufrah min hufar al-nar" (alam kubur (barzakh) di dalamnya merupakan taman dari sekian taman surga atau lubang dari sekian lubang nereka. HR. Tarmizi dan Tabrani).[7] tulisan ini masih berlanjut....
[1] Nurchois Madjid, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Paramadin : Jakarta, 1995). hal. 225
[2] ibid
[3] M. Qurasih Shihab, Wawasan Al-Quran (Mizan : Bandung, 2000). hal. 85
[4] ibid, hal. 92, lihat pula M. Qurasih Shihab, Membumikan alquran. (Mizan : Bandung, 1997) hal. 240
[5] ibid
[6] Udi Mufrodi Mawardi, Gasmbaran Konfrehensif tentang Manusia (FUDPress : Serang, 2008).hal. 90.
[7] ibid
Senin, 25 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar