Oleh :
Uib Sholahuddin Al Ayubi, MA
Berbicara tentang kematian bukanlah suatu hal yang sepele, karena manusia untuk memahami kematiannya sangat terbatas, dan juga karena terus dirundung kesedihan dan ketakutan yang mendalam yang selalu menghinggapi dalam benak dan pikiran kita bagaiama terjadi kematian?. Manusia sedih menghadapi kematian karena ia akan meninggalkan sesuatu yang dicintai dan sedih karena belum siap untuk mati karena masih menikmati hidup ini. Sehingga muncul pepatah Khairil Anwar "Aku ingin hidup seribu Tahun lagi". Kahiril pun sebenarnya terinspirasi dari alquran "Salah seorang di antara mereka berkeinginan untuk dihidupkan seribu tahun" (QS. 2:96)
Dalam ayat-ayat alquran dan hadits Nabi Muhammad Saw., banyak menerangkan tentang ketakwaan, dan juga banyak menerangkan tentang sifat-sifat utama orang yang bertakwa, seperti : beriman kepada yang gaib, menegakan sholat, mendermakan sebagian dari harta yang diakruniakan Tuhan kepada mereka, beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., beriman kepada kitab suci yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad Saw., yakin akan hari kemudian (akhirat).
Dari beberapa sifat orang bertakwa, terutama yang terakhir yaitu beriman kepada hari akhir, hal ini berkenaan juga dengan kematian sesorang, namun pula kematian merupakan bukan akhir dari segala pengalaman eksistensial manusia, melainkan permulaan dari jenis pengalaman baru yang justru lebih hakiki dan lebih abadi.[1] Kematian manusia merupakan kelanjutan sebuah kehidupan (kontinuum), kematian hanya sebuah titik pemberhentian dan kemudian melanjutkan kehidupan pada fase berikutnya. Namun pula kematian bukanlah sebuah masalah yang empiris, tidak bisa dibuktikan melalui pengalaman atau sebuah penelitian bagi manusia yang masih hidup. Kematian dalam alquran dan hadits ditekankan kepada kata "iman" (percaya dan yakin), percaya kepada pembawa beirita (naba) dari Tuhan sebagaiman dibwa oleh para pembawa berita (naby), yaitu orang yang mendapat berita.
Berbeda dengan pemahaman aajaran Hindu, bahwa kematian bukan merupakan sebuah fase kelanjutan, melainkan sebuah tempat bagi konsep reinkarnasi. Reinkarnasi bagi ajaran Hindu merupakan manusia akan hidup kembali ke dunia ini, dengan bentuk yang serupa. Ajaran ini melakat bagi kaum Hindu karena percaya betul akan terjadi hidup dua kali di dunia. Pandangan dalam Islam mengindikasikan bahwa eksistensi dan pengalaman manusia memiliki "dua kematian" dan "dua kehiduapan" (QS. Al-Mu'min/40:11).
Dua kematian dan dua kehidupan, menurut para ahli tafsir nmenjelaskan, bahwa kematian pertama ialah fase eksistensi manusia masih berupa tanah atau sebelum dilahirkan di dunia, sedang kemaatian kedua ialah kematian fisik sebagai akhir hidup dunia untuk memasuki hidup ukhrowi. Dan kehidupan ukhrowi terjadi setelah kembangkitan kembali (qiyamat) adalah hidup yang kedua, sedang hidup yang pertama ialah yang sedang kita alami saat ini, yiatu kehidupan di dunia.[2]
Kematian adalah "pintu" untuk memasuki kehidupan manusia selanjutnya, suatu kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan saat ini dengan kehidupan di ukhrowi, jadi kematian adalah sebuah perpindahan (transitory). Setelah kematian, ada kehidupan, seperti yaum al-Ba'ats, (hari kebangkitan), hingga pada yaum al-qiyamah (hari kiamat). Hidup di akhirat dinamai dengan al-hayawan yang berarti hidup yang sempurna, dan kematian disebut dengan wafat yang arti harfiyahnya adalah, kesempurnaan.[3]
Sempurnanya menuntaskan kehidupan di dunia, dan akan menuju kehidupan yang benar-benar sempurna, nemun demikian, bahwa kehidupan sesudah mati, sebelum seseorang dibangkitkan untuk masuk surga atau terjerumus ke neraka. Kehiduapan tersebut dinamakan kehidupan alam barzakh yang artinya pemisah.[4] Di alam barzakh ini sesorang dapat melihat ke depan dan melihat ke belakang. Penglihatan ke depan akan terlihat kehidupan akhirat (surga dan nerqaka), bila melihat ke belakang adalah dunia, dan akan terlihat keluarganya yang masih hidup dunia, ia berusaha ingin kembali, tatapi ada pemisah (barzakh).[5]
Alam barzakh bukan liang lahat tempat disemayamkan jasad, tatpi tempat menetapnya ruh-ruh manusia pasca kematian.[6] Alam barzakh lebih luas dan lebih besar dari bumi yang ditempati manusisa sebelumnya. Ruh-ruh manusia yang menatap di alam barzakh, tentu akan dapat balasan sesuai amalan di dunia. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi : "al-qabr raudah min riyad al-jannah au hufrah min hufar al-nar" (alam kubur (barzakh) di dalamnya merupakan taman dari sekian taman surga atau lubang dari sekian lubang nereka. HR. Tarmizi dan Tabrani).[7] tulisan ini masih berlanjut....
[1] Nurchois Madjid, Islam Agama Peradaban Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Paramadin : Jakarta, 1995). hal. 225
[2] ibid
[3] M. Qurasih Shihab, Wawasan Al-Quran (Mizan : Bandung, 2000). hal. 85
[4] ibid, hal. 92, lihat pula M. Qurasih Shihab, Membumikan alquran. (Mizan : Bandung, 1997) hal. 240
[5] ibid
[6] Udi Mufrodi Mawardi, Gasmbaran Konfrehensif tentang Manusia (FUDPress : Serang, 2008).hal. 90.
[7] ibid
Senin, 25 Februari 2008
Kamis, 21 Februari 2008
Perkembangan Media Massa Nasional, Islam dan Banten
Oleh :
Uib Sholahuddin Al Ayubi, MA
Sejarah Media Massa Nasional
Orang tidak dapat membajangkan lagi sekarang, bagaimana sekiranja hidup kita ini, bilamana tidak ada surat kabar. (Parada Harahap “Kedudukan Pers Di Masjarakat” 1951)
Sepenggal kalimat paragraf di atas bicara tentang kedudukan pers Indonesia, yang dimuat pada surat kabar pada tahun 1951. Dengan demikian berbicara perihal dunia pers di Indonesia, tentunya tidak bisa dipisahkan dari hadirnya bangsa Barat di tanah air kita. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa orang Eropa-lah, khususnya bangsa Belanda, yang telah “berjasa” mempelopori hadirnya dunia pers serta persuratkabaran di Indonesia. Masalahnya sebelum kehadiran mereka, tidak diberitakan adanya media masa yang dibuat oleh bangsa pribumi.[1]
Tentang awal mula dimulainya dunia persuratkabaran di tanah air kita ini, Dr. De Haan dalam bukunya, “Oud Batavia” (G. Kolf Batavia 1923), mengungkap secara sekilas bahwa sejak abad 17 di Batavia sudah terbit sejumlah berkala dan surat kabar. Dikatakannya, bahwa pada tahun 1676 di Batavia telah terbit sebuah berkala bernama Kort Bericht Eropa (berita singkat dari Eropa). Berkala yang memuat berbagai berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676. Setelah itu terbit pula Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744, Vendu Nieuws pada tanggal 23 Mei 1780, sedangkan Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1810. Sejak abad 17 dunia pers di Eropa memang sudah mulai dirintis. Sekalipun masih sangat sederhana, baik penampilan maupun mutu pemberitaannya, surat kabar dan majalah sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat di masa itu. Bahkan, para pengusaha di masa itu telah meramalkan bahwa dunia pers di masa mendatang merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Oleh karena itu, tidak heran apabila para pengusaha persuratkabaran serta para kuli tinta asal Belanda sejak masa awal pemerintahan VOC, sudah berani membuka usaha dalam bidang penerbitan berkala dan surat kabar di Batavia.[2] Media massa, atau surat kabar di atas merupakan surat kabar yang dicetak dan diterbitkan bukan oleh orang-orang pribumi, melainkan para penajajah Belanda.
Kendati demikian, tujuan mereka bukan cuma sekadar untuk memperoleh keuntungan uang dan membuka bisnis. Namun, mereka telah menyadari bahwa media masa di samping sebagai alat penyampai berita kepada para pembacanya dan menambah pengetahuan, juga punya peran penting dalam menyuarakan isi hati pemerintah, kelompok tertentu, dan rakyat pada umumnya. Apalagi, orang Belanda yang selalu mengutamakan betapa pentingnya arti dokumentasi, segala hal ihwal dan kabar berita yang terjadi di negeri leluhurnya maupun di negeri jajahannya, selalu disimpan untuk berbagai keperluan.
Dengan kata lain media masa di zaman itu telah dipandang sebagai alat pencatat atau pendokumentasian segala peristiwa yang terjadi di negeri kita yang amat perlu diketahui oleh pemerintah pusat di Nederland maupun di Nederlandsch Indie serta orang-orang Belanda pada umumnya. Dan apabila kita membuka kembali arsip majalah dan persuratkabaran yang terbit di Indonesia antara awal abad 20 sampai masuknya Tentara Jepang, bisa kita diketahui bahwa betapa cermatnya orang Belanda dalam pendokumentasian ini.
Berbeda dengan surat kabar yang yang dikelola oleh kaum pribumi Indonesia. Menurut Suryadi yang juga mengajar di Universitas Leiden, mengesankan, semenjak abad-19, pertumbuhan surat kabar dan dunia penerbitan di Minangkabau (Sumatra Barat) sangat signifikans. Menurutnya orang Padang bukan kemarin sore mulai membaca koran. Sejak 7 Desember 1864-hampir satu setengah abad lalu-orang Minang untuk pertama kalinya membaca surat kabar berbahasa Melayu. Pada bulan itu, edisi perdana Bintang Timoer diluncurkan. Itulah koran pribumi pertama (vernacular press) yang terbit di kota yang sudah berusia tua ini. Minangkabau memang merupakan kota pers tertua di Sumatra, dan termasuk kota Indonesia yang awal mengenal surat kabar. Karena mendapat respons dan pasar yang baik, maka manajemen Bintang Timoer menerbitkan menjadi mingguan setiap Rabu yang dimulai sejak 4 Januari 1865. yang ketika di tempat lain di pulau ini orang baru mengenal naskah (manuscript) beraksara Jawi yang berisi sastra pagan, di Padang orang (Minangkabau) sudah membolak-balik halaman kertas lebar bernama surat kabar yang berisi informasi dari luar dunia lokalnya. Sejumlah surat kabar yang terbit di Minangkabau setelah Bintang Timoer antara lain, Pelita Ketjil (Padang, 1892-1894), Warta Berita (Padang, 1895), Tjahja Sumatra (Padang, 1906).[3]
Namun demikian, pada tahun 2006, presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, mencanagnkan bahwa hari pers nasional dimulai pada bulan Januari tahun 1907 sebagai titik awal penerbitan pers nasional, dan memberi gelar pahlawan nasional kepada Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang sebelumnya pada tahun 1973. ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional. Hal ini disayangkan oleh Nasrul Azwar kenapa penetapan pers nasional dimulai rtahun 1907, padahal di Sumatra Barat tahun 1864 sudah terbit surat kabar Bintang Timoer.
Medan Prijaji, mingguan yang terbit di Bandung pada tahun 1907, sebagai surat kabar nasional pertama yang menyandang predikat tulen. Pengasuhnya Raden Mas Tirto Adhi Soryo dengan nama kecil Djokomono. Sebelum menerbitkan "Medan Prijaji", Januari 1904 Djokomono mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji beralamat di Djalan Naripan Bandoeng yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).[4]
Di hadapan Notaris Simon Bandung, konon ia ingin segera menerbitkan Medan Prijaji tahun itu juga. Sebelumnya dia mempersiapkan dulu percetakannya, menyiapkan sarana surat kabarnya dan kelengkapan wartawannya. Karena itu Medan Prijaji paling tepat disebut sebagai koran pertama Indonesia tulen, sebab mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Djokomono sendiri disebut-sebut pula sebagai perintis persuratkabaran dan Kewartawanan Nasional Indonesia. Konon pada waktu itu sudah lahir organisasi wartawan PDI (Persatoean Djoernalis Indonesia). Ketika pertama kali terbit di Bandung, Medan Prijaji mencantumkan moto di bawah nama Medan Prijaji "Ja'ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja".
Muncul surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907, sebuah surat kabar pertama yang dikelola kaum pribumi. Maka surat kabar ini bisa dikatakan merupakan masa permulaan bangsa kita terjun dalam dunia pers yang berbau politik. Pemerintah Belanda menyebutnya Inheemsche Pers (Pers Bumiputra). Pemimpin redaksinya yakni R. M. Tirto Adhi Soerjo yang dijuluki Nestor Jurnalistik ini menyadari bahwa surat kabar adalah alat penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Dia boleh dikata merupakan bangsa kita yang memelopori kebebasan.
Menjadikan Medan Prijaji sebagai patokan Seabad Pers Kebangsaandidasari pertimbangan,[5] sebagai berikut : Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan beredar di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.
Kedua, visi Medan Prijaji secara eksplisit dalam jargonnya yang kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa.
Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain dengan jalan pers serta mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan perjuangan lewat jalan berorganisasi. Sehingga kedua titik tujuan tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto-lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia bikin konsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.
Keempat, karena dilakukan secara sistematis, maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah yang menjadi patokan untuk aksi sejarah. Dan ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu, orang menilai peristiwa itu sebagai peristiwa revoluatif. Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerakan selanjutnya. Walaupun sudah ada yang terbit duluan, naumun itu tidak menjadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa dikumandangkan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.
Kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernihmelihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, karya jurnalistik yang lahir pada awal abad ke-19, contohnya yang dirintis R.M. Tirto Adhi Soerjo, telah membuka babak baru dalam sejarah pers Indonesia. Pertama, penggunaan pers untuk membentuk pendapat umum. Kedua, penggunaan pers sebagai alat memperjuangkan hak dan keadilan. Ketiga, menyalakan keberanian menghadapi alat kolonial tingkat tinggi bangsa Eropa.
Sejarah Media Massa Islam
Sementara itu perkembangan media cetak Islam di Indonesia telah hadir sejak awal abad ke-20, bersamaan dengan pertumbuhan gerakan perjuangan pembaharuan di dunia Islam. Salah satunya adalah al-Munir yang terbit di daerah Padang pada tahun 1911, yang didirikan oleh Dr. H. Abdullah Ahamad (1878-1933), dengan kawan-kawannya bersamaan dengan mengelola organisasi Syarikat Ilmu. Al-Munir terilhami dengan majalah al-Manar pada tahun 1898, yang ditebitkan oleh tokoh pembaharu Islam di Mesir, yaitu Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Al-Munir terbit mingguan, yakni setiap hari Sabtu, dengan menggunakan huruf Arab Melayu dan bahasa Indonesia. Visi dan misi al-Munir adalah untuk pembaharuan Islam, yaitu pemberantasan bid'ah dan khurafat.
Munculnya al-Munir sebagai majalah Islam pertama, maka muncul pula majalah-majalah lain yang visi dan misinya mirip dengan al-Munir, yaitu al-Bayan dan al-Itqan yang terbit di Padang. Karena merasa risih terhadap pembaharuan Islam, maka kaum tradisional Abdullah Ahmad menerbitkan majalah Suluh Melayu yang merupakan reaksi dari majalah-majalah pemabahruan Islam, seperti al-Munir.
Karena dengan permasalah menajemen majalah al-Munir hanya bertahan lima tahun karena pembiayaan penerbitan hanya dari para pelopor saja. Al-Munir berganti nama dengan Munirul Manar oleh Zainuddin Labai yang berdomisili di Padang Panjang, yang hanya bertahan dua tahun saja. Kemudiam Abdullah Ahmad menerbitkan majalah baru dengan nama, al-Itfaq wal Itiaraq, dan usianya pun sama dengan munirul Manar. Majalah lain yang muncul di Padang adalah al-Basyir yang didirikan oleh Dr. Abdul Karim Amrullah, dan di Payahkumbuh terbit majalah bernama Al-Imam dibawah pengelolaan Syeikh H. Abbas Abdullah.
Pada tahun 1930, para politisi Islam mendirikan majalah Medan Rakyat yang diasuh oleh Ilyas Ya'qub, yang kemudian pada tahun 1933 dibredel oleh pemerintahan Kolonial Belanda, dan Ya'qub dibuang di Digul. Masih pada tahun 1930-an berdiri majalah para pelajar Islamic College, yaitu, Majalah Raya, majalah ini berafiliasi pada Permi. Dan pada masa ini pula muncul majalah Matahari Islam, yang diasuh oelh Mahmud Yunus.
Masih dataran Sumatera, di kota Medan khususnya, yang memiliki rekor dalam penerbitan majalah Islam, yaitu :
1. Majalah Suluh Islam, yang didirikan oleh Abdul Wahid Er, dan KH. Abdul Majid Abdullah.
2. Majalah Medan Islam, yang didirikan oleh PB. Jami'atul Washliyah, HA. Kadir al-Hidayah,
3. Majalah Dewan Islam yang dipimpin M. Arsyad Thalib Lubis.
4. Majalah Menara Puteri, yang diasuh oleh Rangkayo Rasuna Said.
5. Majalah Sinar yang diasuh oleh H. Bakri Sulaiman, dan Bakhtiar Yunus.
6. Majalah Tafsir al-Quranul Karim yang diasuh oleh Ust. H. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahman Haitami.
7. Majalah mingguan Islam Pedoman Masyarakat yang didirikan oleh oleh HAMKA dan HM Yunan Nasution. Majalah Panji Islam yang didirikan oleh Zaenal Abidin Ahmad dan AR. Hajat.
8. Majalah Pedoman Islam dan al-Manaar, majalah ini bervisikan pada ilmu pengetahuan, yang didirikan oleh Zaenal Abidin Ahmad dan AR. Hajat.
Majalah Pedoman Masyarakat dan Panji Islam memiliki oplah terbesar, yang beredar hampir di suluruh Indonesia dan di luar negeri, seperti Singapura, Arab Saudi, Mesir), karena majalah ini mengupas tentang ilmu pengetehauan, sastra, budaya, politik, dan permasalahan masyarakat, maka para pembacapun dari kalangan intelektual dan tokoh nasional yang menyumbangkan tulisan-tulisan, seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, dan H. Agus Salim. Kedua majalah ini merupakan pelopor majalah pembaharuan pers Islam. Namun sayang riwayat keduanya terhenti karena di bredel tentara jepang pada tahun 1941. Kemudian pada tahun 1959 KH. Muhammad Fakih Usman, HAMKA, Yusuf Abdullah Paur, dan Yusuf Ahmad menerbitkan majalah Panji Masyarakat (Panjimas), dengan tujuan mengembalikan masa gemilang majalah-majalah Islam, dan pers Islam, karena para pendiri Panjimas, menghawtirkan banyak para ulama dan cendekiawan muslim terlibat praktis pada politik selama pendudukan Jepang. Sebelum Panjimas terbit sudah terbit majalah Islam, yaitu Media yang diterbitkan PB HMI, al-Muslimun di Bangil, al-Jami'ah di IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Hikmah yang diterbitkan Masyumi, dan majalah Perbaikan.
Di Kalimantan Barat terbit beberapa majalah Islam, antara lain Majalah Persatuan (Samarinda), Pelita Islam (Banjarmasin), dan Himatul Balighah (Barabai). Di Bankalan Madura pernah terbit majalah al-Islam yang akhirnya dibredel pada 1936, dan di Ambon terbit majalah triwulanan dengan nama SUISMA. Bahkan para mahasiswa yang belajar di Sekolah Kolonial Belenda muncul majalah yang berbahasa Belanda, yaitu Het Licht (cahaya) yang dikelola oleh PB Jong Islamitten Bon (JIB) dan Moslem Reveil yang dikelola Studenten Islam Vereniging (Pergerakan Mahasiswa Islam).[6]
Sejarah Media Massa di Banten
Perkembangan media massa (cetak) yang diterbitkan di wilayah Banten pada masa lalu, mungkin teramat panjang, dan sulit untuk melacaknya. Apalagi wilayah Banten pada tahun 1925, masuk kepada wilayah Jawa Barat, termasuk Batavia, Bogor, Priangan, dan Cirebon.[7]
Babak pertama penerbitan surat kabar di Jawa Barat, boleh disebut sebagai pers putih karena surat kabar tersebut "dari dan untuk si kulit putih". Tegasnya, VOC sebagai pembawa budaya Barat hanya memperhatikan kepentingan bangsa mereka sendiri, itu pun sepanjang tidak menentang kebijakan VOC. Pada masa Gubernur Jenderal VOC, Van Imhoff, terbit surat kabar resmi pertama dengan nama Bataviasche Nouvelles. Surat kabar yang mulai muncul tanggal 7 Agustus 1744 ini diterbitkan oleh pedagang VOC Jan Erdmans Jordens dan isinya terutama berita-berita kapal, pengangkatan dan pemberhentian pejabat VOC, peraturan-peraturan pemerintah di Belanda dan VOC sendiri, ditambah berita-berita singkat dari berbagai tempat di mana ada pangkalan VOC (mulai dari Nusantara hingga Tanjung Harapan di Afrika Selatan).[8]
Sifat otokratis VOC diwarisi oleh Pemerintah Hindia Belanda sehingga pers swasta baru muncul pertengahan abad ke-19. Itupun dibatasi dengan ketat melalui Drukpers Reglement tahun 1856 yang memberlakukan sensor preventif. Peraturan ini diubah tahun 1906 sehingga menjadi sensor represif. Hingga akhir abad ke-19 boleh dikatakan surat kabar putih ini berhaluan politik netral.
Baru pada peralihan abad ke 19-20, muncul surat kabar-surat kabar yang memuat berita politik, bahkan yang bersikap kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda. Kebebasan pers ini ternyata membawa akibat delik pers. Pengadilan terhadap wartawan menjadi hal yang biasa sehingga timbul ungkapan: "seorang redaktur surat kabar di daerah jajahan ini selalu bekerja dengan satu kakinya di penjara."
Inilah beberapa surat kabar putih yang terbit di Jawa Barat: Tjerimai (1887), De Noordkust (1913), Cheribonsche Courant (1918) di Cirebon; Preanger-Bode, (1895) mingguan yang bertahan sangat lama hingga menembus masa penjajahan; Nicork Express (1914) mingguan De Indische Post (1920-39) di Bandung; Bataviaasch Nieuwsblad di Batavia (dengan seorang redaktur Indo-Belanda, F.K.H Zaalberg, kemudian tahun 1907 muncul E.F.E Douwes Dekker), Soekaboemipost (1918) De Preangerpost (1922) di Sukabumi; De Archipel Post (1917); De Buitenzorg Post (1922) di Bogor.[9]
Selain surat kabar yang bersifat umum, ada juga surat kabar dan majalah yang bersifat khusus antara lain mingguan bisnis De Bedrijfscourant (1915) di Sukabumi, Weekblad van de Handelsvereeniging (1920) di Bandung. Majalah bulanan pariwisata The Garoet Express and Tourist Guide Geillustreerd Weekblad di Garut.
Di Bandung ada dwi bulanan militer De Indische Legerkrant (1919). Koran untuk tentara ini menarik juga, lihat harga langganannya : untuk perwira tinggi sebesar f 1,- per kuartal, untuk perwira menengah sebesar f.0, 50, sedangkan untuk kopral dan prajurit gratis. Pada tahun 1940 di Bandung William Booth menerbitkan Strijd Kreet, surat kabar resmi untuk tentara Hindia Belanda yang memiliki induk di London. Masih ada lagi De Indo-Europeanen (1922) yang diterbitkan kaum Indo, De Vakbeweging (1925), diterbitkan oleh Serikat Buruh Kereta Api di Bandung, harian Katolik De Koerier (1938) di Batavia, dan Bantam (1923) surat kabar gratis berisi iklan terbit di Rangkasbitung Keresidenan Banten.
Namun beberapa pelacakan dari situs-situs internet,[10] dan beberapa koran yang dikutip dalam tulisan Michael Charles Williams[11], bahwa media cetak yang ada di wilyah Banten, pada kurun waktu tahun 1920-1938, adalah :
1. Bantam, tahun 19 Juli 1923 di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali.
2. De Banten Bode,[12] tahun 1924-1938 di Serang, terbit satu minggu sekali.
3. Dunia Islam, terbit pada tahun 1922-1923 di Rangkasbitung oleh H. Agus Salim.
4. Mimbar, terbit pada tahun 1919-1920, di Serang
5. Pengharapan Banten, tahun 1923-1924 terbit di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali
6. Banten Vooruit, tahun 1923, di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali
Pada umumnya surat kabar di atas memvisikan pada perjuangan-perjuangan perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda, pemeberontakan-pemebrontakan anak negeri Banten yang melawan Belanda dan juga informasi-informasi organisasi partai, seperti Sarekat Islam, dan Partai Komunis Indonesia khususnya di wilayah Banten.
Banten memiliki sejarah pemberontakan yang panjang, semenjak Kesultanan Banten sebagai pemegang otoritas politik dihapuskan oleh Willems Daendels, tercatat ada empat kali pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Pertama pada 1850 yang dipimpin oleh Haji Wakhia, lantas 1888 oleh Haji Wasid, 1926 oleh tokoh muslim-komunis KH. Achmad Chatib dan 1945 yang juga dipimpin oleh KH Achmad Chatib dan Tje Mamat. Namun dalam peristiwa tahun 1945 pemberontakan lebih merupakan pertanda kebebasan dari cengkeraman kolonialisme.[13] Pemberontakan-pemberontak ini, dapat direkam pada koran-koran mingguan seperti di atas. Pada tahun 1954 para pemuda yang berada di kawasan bisnis royal, dan pasar lama Serang tepatnya di Pocis, mereka sepakat untuk menerbitkan satu media yang bersifat penerangan, pendidikan dan hiburan. Adalah "Rangsang Debu '45" dan "Utusan Banten" sebuah media dengan format buku kecil -sebesar buku tulis- yang terbit satu bulan sekali dengan 30 halaman.[14] Utusan Banten bertahan hanya enam bulan lamanya, karena pengelolaan yang tidak memiliki manajemen yang baik. Akhirnya pada masa itu pula Utusan Banten, dilebur yang digagas oleh H.M. Rafiudin Gogo Sandjarirdja, dengan Gelora Masa. Media ini mampu bertahan empat tahun lamanya, dan berkahir pada tahun 1959, dan memiliki oplah mencapai 6000 exemplar, yang didstribuskan ke daerah-daerah lain, seperti Lampung, Bogor, Tanjung Priok, Lebak, Pandeglang, dan Serang. Gelora Masa yang terbit setiap hari Jum'at dapat bertahan terbit karena dapat jatah kertas dan dibiaya Depertemen Penerangan pada awaktu itu.[15] Pada tahun 1960-1970-an, di wilayah Serang terdapat terbitan koran, Dian Warta sebagaimana yang diceritakan, Agus Sandadirja seorang tokoh pers dan pimpinan Fajar Banten. Dian Warta bervisikan pada pendidikan dan budaya, serta pembangunan, Dian Warta pada masa itu beralamat di Kaloran Serang.[16] Selain itu pula di Banten pernah muncul terbit surat kabar bernama Warta Banten, yang dikelola oleh Djaja Sandadirdja, sebelum ia menjadi ketua DPRD Gotong Royong Kabupaten Serang yang dapat bantuan dari gubernur Jawa Barat. Sementara Dian Warta dipimpin oleh istrinya, yaitu Rika Wati.[17] Jauh sesudah masa orde baru, pada masa reformasi media masa di Banten bergeliat kembali dengan beragam munculnya media cetak. Pada tahun 1999-2000 muncul koran yang dipelopori oleh Lukman Hakim dan kawan-kawan, yaitu Banten Express dan Pelopor, yang sebelumnya sudah mendirikan Banten Pos dan mendapat ijin SIUPP namun tidak diurus kelanjutnanaya, maka Banten Pos diambil oleh Pikiran Rakyat. Yang berencana mendirikan anak cabang perusahaannya di Banten. Namun Pikiran Rakyat pun tidak meneglala lanjut Banten Pos, yang kahirnya mendirikan Fajar Banaten.[18] Dan pada masa itu pula Lukman Hakim, mendirikan Radar Tangerang yang berganti nama dengan Satelit News, sebelumnya Lukman Hakim menyarankan Radar Tangerang pindah ke ibu kota provinsi Banten, yaitu Serang, namun pihak menajemen mendirikan Harian Banten (Radar Banten), masih dalam satu Jaringan JPPN.[19] Pada tahun 1984, media cetak muncul di kalangan mahasiswa, yaitu SiGMA IAIN SMH Banten, majalah ini bervisikan pada pendidikan, budaya, sosial, agama, dan kegaitan mahasiswa di kampusnya. Selain itu pula media cetak di Banten bermunculan seperti MERIDIAN yang terbit pada tahun 2000, didirikan oleh Gola Gong, Toto ST Radik, Uzi, dan Taufik Rachman, tabloid MERIDIAN, sebuah media ramah keluarga Banten.[20] Swara Banten pada tahun 2000, mewarnai dunia pers, dengan bentuk tabloid, dan format terbit mingguan, namun akhirnya tidak lama terbit. Tahun-tahun berikutnya muncul beberapa surat kabar yang berbentuk tabloid, seperti Komunitas yang didirikan oleh PT. Ligar pada tahun 2003-an namun usianyapun tidak lama untuk terbit. Dalam kurun waktu 2000-2007 perkembangan media cetak di Banten cukup signifikan. Dari hasil pengumpulan data di lapangan diperoleh nama-nama media cetak, baik harian, maupun mingguan, bahkan bulanan, media cetak ini dijual di kios-kios dan toko buku yang terdapat di terminal-terminal, satsiun, pasar, mal, dan mini mart yang tersebar di Banten.
[1] Haryadi Suadi, Pers Indonesia dari Zaman Hindia Belanda Sampai Masa Revolusi”Medan Prijaji” Koran Politik Pribumi (http://bataveiase.wordpress.com.
[2] Ibid
[3] Hasrul Azwar, Sejarah Pers Sumatra Barat Dialih Orang Lalu (http://andreasharsono.blogspot.com/. Dan lihat pula www.ranahminang.com.
[4] Syafik Umar, Koran Nasional Pertama Lahir di Bandung (www. Pikiranrakyat.com)
[5] Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007) http://groups.yahoo.com/pasarbuku
[6] Asep Syamsul M. Romli, Ibid
[7] Nina Lubis, Seabad Pers Jawa Barat (Bandung, Pikiran Rakyat, 2007)
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] http://lijsten.kb.nl/lijst.htm?kranten/gemengd/b.htm
[11] Michael Charles Williams, Comunism, Religion, and Revolt In Banten, (London : Ohio University, 1990). Hal.
[12] De Banten Bode, menurut penuturan Lukman Hakim, dikelola dan terbitkan oleh H. Razak berasal dari Rangkasbitung, yang pindah ke Serang.
[13] Bonnie Triyana, Ketika Ulama dan Jawara Bertemu di Simpang Kiri Jalan (http://www.jurnalnasional.com/). Lihat Pula Michael Charles Williams, Comunism, Religion, and Revolt In Banten.
[14] http://www.mail-archive.com/wongbanten@yahoogroups.com
[15] Ibid
[16] Wawancara, dengan Agus Sandadirdja, Serang, 4 November 2007
[17] Wawancara dengan Lukman Hakim, Serang, November 2007.
[18] Ibid
[19] ibid
[20] Gola Gong, Pers Mutkhir Banten (http://keluargapengarang.wordpress.com/ 2007/04/09/
Uib Sholahuddin Al Ayubi, MA
Sejarah Media Massa Nasional
Orang tidak dapat membajangkan lagi sekarang, bagaimana sekiranja hidup kita ini, bilamana tidak ada surat kabar. (Parada Harahap “Kedudukan Pers Di Masjarakat” 1951)
Sepenggal kalimat paragraf di atas bicara tentang kedudukan pers Indonesia, yang dimuat pada surat kabar pada tahun 1951. Dengan demikian berbicara perihal dunia pers di Indonesia, tentunya tidak bisa dipisahkan dari hadirnya bangsa Barat di tanah air kita. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa orang Eropa-lah, khususnya bangsa Belanda, yang telah “berjasa” mempelopori hadirnya dunia pers serta persuratkabaran di Indonesia. Masalahnya sebelum kehadiran mereka, tidak diberitakan adanya media masa yang dibuat oleh bangsa pribumi.[1]
Tentang awal mula dimulainya dunia persuratkabaran di tanah air kita ini, Dr. De Haan dalam bukunya, “Oud Batavia” (G. Kolf Batavia 1923), mengungkap secara sekilas bahwa sejak abad 17 di Batavia sudah terbit sejumlah berkala dan surat kabar. Dikatakannya, bahwa pada tahun 1676 di Batavia telah terbit sebuah berkala bernama Kort Bericht Eropa (berita singkat dari Eropa). Berkala yang memuat berbagai berita dari Polandia, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Denmark ini, dicetak di Batavia oleh Abraham Van den Eede tahun 1676. Setelah itu terbit pula Bataviase Nouvelles pada bulan Oktober 1744, Vendu Nieuws pada tanggal 23 Mei 1780, sedangkan Bataviasche Koloniale Courant tercatat sebagai surat kabar pertama yang terbit di Batavia tahun 1810. Sejak abad 17 dunia pers di Eropa memang sudah mulai dirintis. Sekalipun masih sangat sederhana, baik penampilan maupun mutu pemberitaannya, surat kabar dan majalah sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat di masa itu. Bahkan, para pengusaha di masa itu telah meramalkan bahwa dunia pers di masa mendatang merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Oleh karena itu, tidak heran apabila para pengusaha persuratkabaran serta para kuli tinta asal Belanda sejak masa awal pemerintahan VOC, sudah berani membuka usaha dalam bidang penerbitan berkala dan surat kabar di Batavia.[2] Media massa, atau surat kabar di atas merupakan surat kabar yang dicetak dan diterbitkan bukan oleh orang-orang pribumi, melainkan para penajajah Belanda.
Kendati demikian, tujuan mereka bukan cuma sekadar untuk memperoleh keuntungan uang dan membuka bisnis. Namun, mereka telah menyadari bahwa media masa di samping sebagai alat penyampai berita kepada para pembacanya dan menambah pengetahuan, juga punya peran penting dalam menyuarakan isi hati pemerintah, kelompok tertentu, dan rakyat pada umumnya. Apalagi, orang Belanda yang selalu mengutamakan betapa pentingnya arti dokumentasi, segala hal ihwal dan kabar berita yang terjadi di negeri leluhurnya maupun di negeri jajahannya, selalu disimpan untuk berbagai keperluan.
Dengan kata lain media masa di zaman itu telah dipandang sebagai alat pencatat atau pendokumentasian segala peristiwa yang terjadi di negeri kita yang amat perlu diketahui oleh pemerintah pusat di Nederland maupun di Nederlandsch Indie serta orang-orang Belanda pada umumnya. Dan apabila kita membuka kembali arsip majalah dan persuratkabaran yang terbit di Indonesia antara awal abad 20 sampai masuknya Tentara Jepang, bisa kita diketahui bahwa betapa cermatnya orang Belanda dalam pendokumentasian ini.
Berbeda dengan surat kabar yang yang dikelola oleh kaum pribumi Indonesia. Menurut Suryadi yang juga mengajar di Universitas Leiden, mengesankan, semenjak abad-19, pertumbuhan surat kabar dan dunia penerbitan di Minangkabau (Sumatra Barat) sangat signifikans. Menurutnya orang Padang bukan kemarin sore mulai membaca koran. Sejak 7 Desember 1864-hampir satu setengah abad lalu-orang Minang untuk pertama kalinya membaca surat kabar berbahasa Melayu. Pada bulan itu, edisi perdana Bintang Timoer diluncurkan. Itulah koran pribumi pertama (vernacular press) yang terbit di kota yang sudah berusia tua ini. Minangkabau memang merupakan kota pers tertua di Sumatra, dan termasuk kota Indonesia yang awal mengenal surat kabar. Karena mendapat respons dan pasar yang baik, maka manajemen Bintang Timoer menerbitkan menjadi mingguan setiap Rabu yang dimulai sejak 4 Januari 1865. yang ketika di tempat lain di pulau ini orang baru mengenal naskah (manuscript) beraksara Jawi yang berisi sastra pagan, di Padang orang (Minangkabau) sudah membolak-balik halaman kertas lebar bernama surat kabar yang berisi informasi dari luar dunia lokalnya. Sejumlah surat kabar yang terbit di Minangkabau setelah Bintang Timoer antara lain, Pelita Ketjil (Padang, 1892-1894), Warta Berita (Padang, 1895), Tjahja Sumatra (Padang, 1906).[3]
Namun demikian, pada tahun 2006, presiden RI Susilo Bambang Yudoyono, mencanagnkan bahwa hari pers nasional dimulai pada bulan Januari tahun 1907 sebagai titik awal penerbitan pers nasional, dan memberi gelar pahlawan nasional kepada Raden Mas Tirto Adhi Soerjo yang sebelumnya pada tahun 1973. ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional. Hal ini disayangkan oleh Nasrul Azwar kenapa penetapan pers nasional dimulai rtahun 1907, padahal di Sumatra Barat tahun 1864 sudah terbit surat kabar Bintang Timoer.
Medan Prijaji, mingguan yang terbit di Bandung pada tahun 1907, sebagai surat kabar nasional pertama yang menyandang predikat tulen. Pengasuhnya Raden Mas Tirto Adhi Soryo dengan nama kecil Djokomono. Sebelum menerbitkan "Medan Prijaji", Januari 1904 Djokomono mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel in schrijfbehoeften Medan Prijaji beralamat di Djalan Naripan Bandoeng yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).[4]
Di hadapan Notaris Simon Bandung, konon ia ingin segera menerbitkan Medan Prijaji tahun itu juga. Sebelumnya dia mempersiapkan dulu percetakannya, menyiapkan sarana surat kabarnya dan kelengkapan wartawannya. Karena itu Medan Prijaji paling tepat disebut sebagai koran pertama Indonesia tulen, sebab mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Djokomono sendiri disebut-sebut pula sebagai perintis persuratkabaran dan Kewartawanan Nasional Indonesia. Konon pada waktu itu sudah lahir organisasi wartawan PDI (Persatoean Djoernalis Indonesia). Ketika pertama kali terbit di Bandung, Medan Prijaji mencantumkan moto di bawah nama Medan Prijaji "Ja'ni swara bagai sekalijan Radja2. Bangsawan Asali dan fikiran dan saoedagar2 Anaknegri. Lid2 Gemeente dan Gewestelijke Raden dan saoedagar bangsa jang terperentah lainnja".
Muncul surat kabar Medan Prijaji pada tahun 1907, sebuah surat kabar pertama yang dikelola kaum pribumi. Maka surat kabar ini bisa dikatakan merupakan masa permulaan bangsa kita terjun dalam dunia pers yang berbau politik. Pemerintah Belanda menyebutnya Inheemsche Pers (Pers Bumiputra). Pemimpin redaksinya yakni R. M. Tirto Adhi Soerjo yang dijuluki Nestor Jurnalistik ini menyadari bahwa surat kabar adalah alat penting untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Dia boleh dikata merupakan bangsa kita yang memelopori kebebasan.
Menjadikan Medan Prijaji sebagai patokan Seabad Pers Kebangsaandidasari pertimbangan,[5] sebagai berikut : Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan beredar di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.
Kedua, visi Medan Prijaji secara eksplisit dalam jargonnya yang kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa.
Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain dengan jalan pers serta mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan perjuangan lewat jalan berorganisasi. Sehingga kedua titik tujuan tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto-lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia bikin konsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.
Keempat, karena dilakukan secara sistematis, maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah yang menjadi patokan untuk aksi sejarah. Dan ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu, orang menilai peristiwa itu sebagai peristiwa revoluatif. Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerakan selanjutnya. Walaupun sudah ada yang terbit duluan, naumun itu tidak menjadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa dikumandangkan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.
Kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernihmelihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.
Menurut Pramoedya Ananta Toer, karya jurnalistik yang lahir pada awal abad ke-19, contohnya yang dirintis R.M. Tirto Adhi Soerjo, telah membuka babak baru dalam sejarah pers Indonesia. Pertama, penggunaan pers untuk membentuk pendapat umum. Kedua, penggunaan pers sebagai alat memperjuangkan hak dan keadilan. Ketiga, menyalakan keberanian menghadapi alat kolonial tingkat tinggi bangsa Eropa.
Sejarah Media Massa Islam
Sementara itu perkembangan media cetak Islam di Indonesia telah hadir sejak awal abad ke-20, bersamaan dengan pertumbuhan gerakan perjuangan pembaharuan di dunia Islam. Salah satunya adalah al-Munir yang terbit di daerah Padang pada tahun 1911, yang didirikan oleh Dr. H. Abdullah Ahamad (1878-1933), dengan kawan-kawannya bersamaan dengan mengelola organisasi Syarikat Ilmu. Al-Munir terilhami dengan majalah al-Manar pada tahun 1898, yang ditebitkan oleh tokoh pembaharu Islam di Mesir, yaitu Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Al-Munir terbit mingguan, yakni setiap hari Sabtu, dengan menggunakan huruf Arab Melayu dan bahasa Indonesia. Visi dan misi al-Munir adalah untuk pembaharuan Islam, yaitu pemberantasan bid'ah dan khurafat.
Munculnya al-Munir sebagai majalah Islam pertama, maka muncul pula majalah-majalah lain yang visi dan misinya mirip dengan al-Munir, yaitu al-Bayan dan al-Itqan yang terbit di Padang. Karena merasa risih terhadap pembaharuan Islam, maka kaum tradisional Abdullah Ahmad menerbitkan majalah Suluh Melayu yang merupakan reaksi dari majalah-majalah pemabahruan Islam, seperti al-Munir.
Karena dengan permasalah menajemen majalah al-Munir hanya bertahan lima tahun karena pembiayaan penerbitan hanya dari para pelopor saja. Al-Munir berganti nama dengan Munirul Manar oleh Zainuddin Labai yang berdomisili di Padang Panjang, yang hanya bertahan dua tahun saja. Kemudiam Abdullah Ahmad menerbitkan majalah baru dengan nama, al-Itfaq wal Itiaraq, dan usianya pun sama dengan munirul Manar. Majalah lain yang muncul di Padang adalah al-Basyir yang didirikan oleh Dr. Abdul Karim Amrullah, dan di Payahkumbuh terbit majalah bernama Al-Imam dibawah pengelolaan Syeikh H. Abbas Abdullah.
Pada tahun 1930, para politisi Islam mendirikan majalah Medan Rakyat yang diasuh oleh Ilyas Ya'qub, yang kemudian pada tahun 1933 dibredel oleh pemerintahan Kolonial Belanda, dan Ya'qub dibuang di Digul. Masih pada tahun 1930-an berdiri majalah para pelajar Islamic College, yaitu, Majalah Raya, majalah ini berafiliasi pada Permi. Dan pada masa ini pula muncul majalah Matahari Islam, yang diasuh oelh Mahmud Yunus.
Masih dataran Sumatera, di kota Medan khususnya, yang memiliki rekor dalam penerbitan majalah Islam, yaitu :
1. Majalah Suluh Islam, yang didirikan oleh Abdul Wahid Er, dan KH. Abdul Majid Abdullah.
2. Majalah Medan Islam, yang didirikan oleh PB. Jami'atul Washliyah, HA. Kadir al-Hidayah,
3. Majalah Dewan Islam yang dipimpin M. Arsyad Thalib Lubis.
4. Majalah Menara Puteri, yang diasuh oleh Rangkayo Rasuna Said.
5. Majalah Sinar yang diasuh oleh H. Bakri Sulaiman, dan Bakhtiar Yunus.
6. Majalah Tafsir al-Quranul Karim yang diasuh oleh Ust. H. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdurrahman Haitami.
7. Majalah mingguan Islam Pedoman Masyarakat yang didirikan oleh oleh HAMKA dan HM Yunan Nasution. Majalah Panji Islam yang didirikan oleh Zaenal Abidin Ahmad dan AR. Hajat.
8. Majalah Pedoman Islam dan al-Manaar, majalah ini bervisikan pada ilmu pengetahuan, yang didirikan oleh Zaenal Abidin Ahmad dan AR. Hajat.
Majalah Pedoman Masyarakat dan Panji Islam memiliki oplah terbesar, yang beredar hampir di suluruh Indonesia dan di luar negeri, seperti Singapura, Arab Saudi, Mesir), karena majalah ini mengupas tentang ilmu pengetehauan, sastra, budaya, politik, dan permasalahan masyarakat, maka para pembacapun dari kalangan intelektual dan tokoh nasional yang menyumbangkan tulisan-tulisan, seperti Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Natsir, dan H. Agus Salim. Kedua majalah ini merupakan pelopor majalah pembaharuan pers Islam. Namun sayang riwayat keduanya terhenti karena di bredel tentara jepang pada tahun 1941. Kemudian pada tahun 1959 KH. Muhammad Fakih Usman, HAMKA, Yusuf Abdullah Paur, dan Yusuf Ahmad menerbitkan majalah Panji Masyarakat (Panjimas), dengan tujuan mengembalikan masa gemilang majalah-majalah Islam, dan pers Islam, karena para pendiri Panjimas, menghawtirkan banyak para ulama dan cendekiawan muslim terlibat praktis pada politik selama pendudukan Jepang. Sebelum Panjimas terbit sudah terbit majalah Islam, yaitu Media yang diterbitkan PB HMI, al-Muslimun di Bangil, al-Jami'ah di IAIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Hikmah yang diterbitkan Masyumi, dan majalah Perbaikan.
Di Kalimantan Barat terbit beberapa majalah Islam, antara lain Majalah Persatuan (Samarinda), Pelita Islam (Banjarmasin), dan Himatul Balighah (Barabai). Di Bankalan Madura pernah terbit majalah al-Islam yang akhirnya dibredel pada 1936, dan di Ambon terbit majalah triwulanan dengan nama SUISMA. Bahkan para mahasiswa yang belajar di Sekolah Kolonial Belenda muncul majalah yang berbahasa Belanda, yaitu Het Licht (cahaya) yang dikelola oleh PB Jong Islamitten Bon (JIB) dan Moslem Reveil yang dikelola Studenten Islam Vereniging (Pergerakan Mahasiswa Islam).[6]
Sejarah Media Massa di Banten
Perkembangan media massa (cetak) yang diterbitkan di wilayah Banten pada masa lalu, mungkin teramat panjang, dan sulit untuk melacaknya. Apalagi wilayah Banten pada tahun 1925, masuk kepada wilayah Jawa Barat, termasuk Batavia, Bogor, Priangan, dan Cirebon.[7]
Babak pertama penerbitan surat kabar di Jawa Barat, boleh disebut sebagai pers putih karena surat kabar tersebut "dari dan untuk si kulit putih". Tegasnya, VOC sebagai pembawa budaya Barat hanya memperhatikan kepentingan bangsa mereka sendiri, itu pun sepanjang tidak menentang kebijakan VOC. Pada masa Gubernur Jenderal VOC, Van Imhoff, terbit surat kabar resmi pertama dengan nama Bataviasche Nouvelles. Surat kabar yang mulai muncul tanggal 7 Agustus 1744 ini diterbitkan oleh pedagang VOC Jan Erdmans Jordens dan isinya terutama berita-berita kapal, pengangkatan dan pemberhentian pejabat VOC, peraturan-peraturan pemerintah di Belanda dan VOC sendiri, ditambah berita-berita singkat dari berbagai tempat di mana ada pangkalan VOC (mulai dari Nusantara hingga Tanjung Harapan di Afrika Selatan).[8]
Sifat otokratis VOC diwarisi oleh Pemerintah Hindia Belanda sehingga pers swasta baru muncul pertengahan abad ke-19. Itupun dibatasi dengan ketat melalui Drukpers Reglement tahun 1856 yang memberlakukan sensor preventif. Peraturan ini diubah tahun 1906 sehingga menjadi sensor represif. Hingga akhir abad ke-19 boleh dikatakan surat kabar putih ini berhaluan politik netral.
Baru pada peralihan abad ke 19-20, muncul surat kabar-surat kabar yang memuat berita politik, bahkan yang bersikap kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda. Kebebasan pers ini ternyata membawa akibat delik pers. Pengadilan terhadap wartawan menjadi hal yang biasa sehingga timbul ungkapan: "seorang redaktur surat kabar di daerah jajahan ini selalu bekerja dengan satu kakinya di penjara."
Inilah beberapa surat kabar putih yang terbit di Jawa Barat: Tjerimai (1887), De Noordkust (1913), Cheribonsche Courant (1918) di Cirebon; Preanger-Bode, (1895) mingguan yang bertahan sangat lama hingga menembus masa penjajahan; Nicork Express (1914) mingguan De Indische Post (1920-39) di Bandung; Bataviaasch Nieuwsblad di Batavia (dengan seorang redaktur Indo-Belanda, F.K.H Zaalberg, kemudian tahun 1907 muncul E.F.E Douwes Dekker), Soekaboemipost (1918) De Preangerpost (1922) di Sukabumi; De Archipel Post (1917); De Buitenzorg Post (1922) di Bogor.[9]
Selain surat kabar yang bersifat umum, ada juga surat kabar dan majalah yang bersifat khusus antara lain mingguan bisnis De Bedrijfscourant (1915) di Sukabumi, Weekblad van de Handelsvereeniging (1920) di Bandung. Majalah bulanan pariwisata The Garoet Express and Tourist Guide Geillustreerd Weekblad di Garut.
Di Bandung ada dwi bulanan militer De Indische Legerkrant (1919). Koran untuk tentara ini menarik juga, lihat harga langganannya : untuk perwira tinggi sebesar f 1,- per kuartal, untuk perwira menengah sebesar f.0, 50, sedangkan untuk kopral dan prajurit gratis. Pada tahun 1940 di Bandung William Booth menerbitkan Strijd Kreet, surat kabar resmi untuk tentara Hindia Belanda yang memiliki induk di London. Masih ada lagi De Indo-Europeanen (1922) yang diterbitkan kaum Indo, De Vakbeweging (1925), diterbitkan oleh Serikat Buruh Kereta Api di Bandung, harian Katolik De Koerier (1938) di Batavia, dan Bantam (1923) surat kabar gratis berisi iklan terbit di Rangkasbitung Keresidenan Banten.
Namun beberapa pelacakan dari situs-situs internet,[10] dan beberapa koran yang dikutip dalam tulisan Michael Charles Williams[11], bahwa media cetak yang ada di wilyah Banten, pada kurun waktu tahun 1920-1938, adalah :
1. Bantam, tahun 19 Juli 1923 di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali.
2. De Banten Bode,[12] tahun 1924-1938 di Serang, terbit satu minggu sekali.
3. Dunia Islam, terbit pada tahun 1922-1923 di Rangkasbitung oleh H. Agus Salim.
4. Mimbar, terbit pada tahun 1919-1920, di Serang
5. Pengharapan Banten, tahun 1923-1924 terbit di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali
6. Banten Vooruit, tahun 1923, di Rangkasbitung, terbit satu minggu sekali
Pada umumnya surat kabar di atas memvisikan pada perjuangan-perjuangan perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda, pemeberontakan-pemebrontakan anak negeri Banten yang melawan Belanda dan juga informasi-informasi organisasi partai, seperti Sarekat Islam, dan Partai Komunis Indonesia khususnya di wilayah Banten.
Banten memiliki sejarah pemberontakan yang panjang, semenjak Kesultanan Banten sebagai pemegang otoritas politik dihapuskan oleh Willems Daendels, tercatat ada empat kali pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Pertama pada 1850 yang dipimpin oleh Haji Wakhia, lantas 1888 oleh Haji Wasid, 1926 oleh tokoh muslim-komunis KH. Achmad Chatib dan 1945 yang juga dipimpin oleh KH Achmad Chatib dan Tje Mamat. Namun dalam peristiwa tahun 1945 pemberontakan lebih merupakan pertanda kebebasan dari cengkeraman kolonialisme.[13] Pemberontakan-pemberontak ini, dapat direkam pada koran-koran mingguan seperti di atas. Pada tahun 1954 para pemuda yang berada di kawasan bisnis royal, dan pasar lama Serang tepatnya di Pocis, mereka sepakat untuk menerbitkan satu media yang bersifat penerangan, pendidikan dan hiburan. Adalah "Rangsang Debu '45" dan "Utusan Banten" sebuah media dengan format buku kecil -sebesar buku tulis- yang terbit satu bulan sekali dengan 30 halaman.[14] Utusan Banten bertahan hanya enam bulan lamanya, karena pengelolaan yang tidak memiliki manajemen yang baik. Akhirnya pada masa itu pula Utusan Banten, dilebur yang digagas oleh H.M. Rafiudin Gogo Sandjarirdja, dengan Gelora Masa. Media ini mampu bertahan empat tahun lamanya, dan berkahir pada tahun 1959, dan memiliki oplah mencapai 6000 exemplar, yang didstribuskan ke daerah-daerah lain, seperti Lampung, Bogor, Tanjung Priok, Lebak, Pandeglang, dan Serang. Gelora Masa yang terbit setiap hari Jum'at dapat bertahan terbit karena dapat jatah kertas dan dibiaya Depertemen Penerangan pada awaktu itu.[15] Pada tahun 1960-1970-an, di wilayah Serang terdapat terbitan koran, Dian Warta sebagaimana yang diceritakan, Agus Sandadirja seorang tokoh pers dan pimpinan Fajar Banten. Dian Warta bervisikan pada pendidikan dan budaya, serta pembangunan, Dian Warta pada masa itu beralamat di Kaloran Serang.[16] Selain itu pula di Banten pernah muncul terbit surat kabar bernama Warta Banten, yang dikelola oleh Djaja Sandadirdja, sebelum ia menjadi ketua DPRD Gotong Royong Kabupaten Serang yang dapat bantuan dari gubernur Jawa Barat. Sementara Dian Warta dipimpin oleh istrinya, yaitu Rika Wati.[17] Jauh sesudah masa orde baru, pada masa reformasi media masa di Banten bergeliat kembali dengan beragam munculnya media cetak. Pada tahun 1999-2000 muncul koran yang dipelopori oleh Lukman Hakim dan kawan-kawan, yaitu Banten Express dan Pelopor, yang sebelumnya sudah mendirikan Banten Pos dan mendapat ijin SIUPP namun tidak diurus kelanjutnanaya, maka Banten Pos diambil oleh Pikiran Rakyat. Yang berencana mendirikan anak cabang perusahaannya di Banten. Namun Pikiran Rakyat pun tidak meneglala lanjut Banten Pos, yang kahirnya mendirikan Fajar Banaten.[18] Dan pada masa itu pula Lukman Hakim, mendirikan Radar Tangerang yang berganti nama dengan Satelit News, sebelumnya Lukman Hakim menyarankan Radar Tangerang pindah ke ibu kota provinsi Banten, yaitu Serang, namun pihak menajemen mendirikan Harian Banten (Radar Banten), masih dalam satu Jaringan JPPN.[19] Pada tahun 1984, media cetak muncul di kalangan mahasiswa, yaitu SiGMA IAIN SMH Banten, majalah ini bervisikan pada pendidikan, budaya, sosial, agama, dan kegaitan mahasiswa di kampusnya. Selain itu pula media cetak di Banten bermunculan seperti MERIDIAN yang terbit pada tahun 2000, didirikan oleh Gola Gong, Toto ST Radik, Uzi, dan Taufik Rachman, tabloid MERIDIAN, sebuah media ramah keluarga Banten.[20] Swara Banten pada tahun 2000, mewarnai dunia pers, dengan bentuk tabloid, dan format terbit mingguan, namun akhirnya tidak lama terbit. Tahun-tahun berikutnya muncul beberapa surat kabar yang berbentuk tabloid, seperti Komunitas yang didirikan oleh PT. Ligar pada tahun 2003-an namun usianyapun tidak lama untuk terbit. Dalam kurun waktu 2000-2007 perkembangan media cetak di Banten cukup signifikan. Dari hasil pengumpulan data di lapangan diperoleh nama-nama media cetak, baik harian, maupun mingguan, bahkan bulanan, media cetak ini dijual di kios-kios dan toko buku yang terdapat di terminal-terminal, satsiun, pasar, mal, dan mini mart yang tersebar di Banten.
[1] Haryadi Suadi, Pers Indonesia dari Zaman Hindia Belanda Sampai Masa Revolusi”Medan Prijaji” Koran Politik Pribumi (http://bataveiase.wordpress.com.
[2] Ibid
[3] Hasrul Azwar, Sejarah Pers Sumatra Barat Dialih Orang Lalu (http://andreasharsono.blogspot.com/. Dan lihat pula www.ranahminang.com.
[4] Syafik Umar, Koran Nasional Pertama Lahir di Bandung (www. Pikiranrakyat.com)
[5] Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007) http://groups.yahoo.com/pasarbuku
[6] Asep Syamsul M. Romli, Ibid
[7] Nina Lubis, Seabad Pers Jawa Barat (Bandung, Pikiran Rakyat, 2007)
[8] Ibid
[9] Ibid
[10] http://lijsten.kb.nl/lijst.htm?kranten/gemengd/b.htm
[11] Michael Charles Williams, Comunism, Religion, and Revolt In Banten, (London : Ohio University, 1990). Hal.
[12] De Banten Bode, menurut penuturan Lukman Hakim, dikelola dan terbitkan oleh H. Razak berasal dari Rangkasbitung, yang pindah ke Serang.
[13] Bonnie Triyana, Ketika Ulama dan Jawara Bertemu di Simpang Kiri Jalan (http://www.jurnalnasional.com/). Lihat Pula Michael Charles Williams, Comunism, Religion, and Revolt In Banten.
[14] http://www.mail-archive.com/wongbanten@yahoogroups.com
[15] Ibid
[16] Wawancara, dengan Agus Sandadirdja, Serang, 4 November 2007
[17] Wawancara dengan Lukman Hakim, Serang, November 2007.
[18] Ibid
[19] ibid
[20] Gola Gong, Pers Mutkhir Banten (http://keluargapengarang.wordpress.com/ 2007/04/09/
Rabu, 20 Februari 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
